Di tengah kebangkitan game bergaya soulslike, ada satu judul yang tidak hanya mencuri perhatian karena visualnya yang memukau, tetapi juga karena premisnya yang unik: Lies of P. Dan kini, kelanjutan dari dunia kelam tersebut hadir dalam bentuk prekuel ambisius yang mengguncang hati dan nalar—Lies of P: Overture.
Sebagai prekuel langsung dari Lies of P, Overture menelusuri awal dari bencana di kota Krat, mengungkap benih kejatuhan umat manusia dan pemberontakan boneka yang menjadi inti dari narasi utama game sebelumnya. Jika Lies of P adalah dongeng Pinokio dalam bentuk gelap dan berdarah, maka Overture adalah awal mimpi buruk itu—penuh kebohongan, kehancuran teknologi, dan keputusasaan yang merayap pelan tapi pasti.
Dengan arahan artistik yang lebih matang, narasi yang lebih mendalam, serta sistem pertarungan yang mengalami evolusi signifikan, Lies of P: Overture menjadi lebih dari sekadar spin-off. Ia adalah potongan penting dalam puzzle dunia Lies of P yang membawa pemain lebih dekat pada akar tragedi yang membentuk segalanya.
Sebuah Kota yang Masih Bernyawa… untuk Sekarang
Berbeda dari versi Krat yang suram dan sekarat di game sebelumnya, Overture memperlihatkan kota ini dalam masa kejayaannya. Jalanan masih dipenuhi lampu gas menyala, boneka berjalan berdampingan dengan manusia, dan menara-menara megah berdiri dengan kebanggaan era teknologi baru.
Namun keganjilan sudah mulai terasa. Boneka-boneka menjadi terlalu cerdas. Kecerdasan buatan berbasis Alchemia yang mengendalikan mereka perlahan menunjukkan deviasi dari algoritma awal. Dan di balik bayang-bayang kejayaan itu, muncul konspirasi antara ilmuwan, politisi, dan aliran kepercayaan yang memuja evolusi manusia-boneka.
Pemain tidak lagi berperan sebagai P, si boneka utama dari game pertama, tapi sebagai Simon, seorang teknisi muda dan mantan tentara yang memiliki hubungan misterius dengan proyek Pinokio. Melalui mata Simon, kita menyaksikan awal dari kejatuhan—satu keputusan keliru demi kemajuan, dan bagaimana kebohongan kecil bisa menjatuhkan seluruh peradaban.
Sistem Pertarungan yang Lebih Adaptif dan Brutal
Jika Lies of P sudah mengesankan dengan sistem pertarungannya yang berat, responsif, dan mematikan, maka Overture menyempurnakannya. Salah satu fitur besar adalah Adaptive Stance System, memungkinkan pemain untuk mengganti gaya bertarung di tengah kombo tanpa jeda. Misalnya, kamu bisa beralih dari gaya defensive dengan rapier ke gaya agresif twin-blade hanya dengan satu input rotasi.
Weapon Integration juga diperluas. Kini, senjata bukan hanya bisa dikombinasikan dalam bentuk modular seperti di Lies of P, tetapi juga bisa disuntikkan dengan efek moralitas—kebohongan atau kebenaran. Efek ini mempengaruhi bukan hanya damage dan skill, tapi juga cara musuh bereaksi. Musuh akan bereaksi berbeda terhadap senjata yang membawa “kebohongan”, yang membuat mekanik pertarungan menjadi lebih dalam secara naratif.
Tambahan lain adalah Resonance Gauge, sistem mirip posture bar di Sekiro, tetapi dengan dua arah: ke musuh dan ke diri sendiri. Terlalu agresif? Resonansi bisa memicumu kehilangan kontrol dan melakukan serangan tak terduga. Terlalu defensif? Kamu bisa “terkunci” dalam posisi rentan oleh tekanan musuh.
Boss fight dalam Overture lebih teatrikal dan didesain untuk memperkuat cerita. Contohnya, pertarungan melawan Maestra del Coro, boneka penyanyi opera yang menyerang dengan gelombang sonik dan ilusi mimpi. Setiap bos bukan hanya ujian skill, tetapi juga simbol dari tema besar: keangkuhan, pengkhianatan, pengorbanan, dan tentunya—kebohongan.
Moralitas: Berbohong atau Tidak, Dunia Menjawab
Moralitas di Lies of P: Overture menjadi sistem yang lebih eksplisit dan punya konsekuensi yang lebih besar. Pilihan dialog, penyelesaian quest, hingga keputusan dalam pertempuran akan memengaruhi “Jejak Kepribadian” Simon—apakah ia akan tetap manusia, atau perlahan menyerupai boneka secara batin.
Sistem ini tidak hanya memengaruhi ending (ada lebih dari tiga akhir), tapi juga skill dan senjata yang bisa digunakan. Sebuah sistem “Lie Threshold” akan terbentuk berdasarkan jumlah kebohongan atau kebenaran yang kamu pilih. Semakin kamu berbohong, dunia akan berubah mengikuti persepsimu—beberapa NPC menjadi tidak bisa dipercaya, musuh lebih brutal, tapi kekuatan tertentu terbuka.
Sebaliknya, menjadi jujur mungkin membuka kebenaran yang seharusnya tidak pernah diungkap, membuat Simon kehilangan kewarasan atau bahkan melihat kenyataan yang terlalu menyakitkan. Ini bukan hanya soal benar dan salah, tapi tentang pilihan yang membentuk jalan hidup di dunia yang sudah retak.
Dunia Terbuka Semi-Zona dan Eksplorasi Non-linear
Krat di Overture lebih luas dan terbuka dibanding pendahulunya. Game ini mengusung pendekatan semi-open zone, dengan lima distrik besar yang masing-masing memiliki arsitektur, musuh, dan cabang cerita sendiri. Kamu bisa menjelajahi District Argentum yang dipenuhi bangsawan misterius, atau Valis Core—pusat penelitian boneka yang terbengkalai namun penuh teknologi berbahaya.
Setiap zona dipenuhi dengan Environmental Lore, puzzle, ruang rahasia, serta side-quest yang memiliki hubungan silang antar wilayah. Bahkan satu keputusan di satu distrik bisa memengaruhi event di distrik lain—seperti membunuh karakter minor yang ternyata akan menyelamatkan NPC penting di tempat lain.
Salah satu inovasi menarik adalah sistem Truth Echoes—sejenis rekaman masa lalu yang bisa diaktifkan saat kamu menyentuh titik kenangan. Echo ini tidak hanya memperlihatkan masa lalu, tetapi bisa diulang untuk menemukan petunjuk tersembunyi atau membuka akses ke area yang sebelumnya terkunci.
Visual, Audio, dan Atmosfer: Sebuah Opera Kematian
Tidak bisa dipungkiri, Lies of P: Overture adalah salah satu game dengan arah seni dan atmosfer terbaik di generasinya. Dengan palet warna yang lebih berani—merah darah, emas kusam, dan biru kelam—tiap frame dalam game ini seperti lukisan hidup dari era steampunk-Victorian yang gelap.
Rancangan musuh lebih variatif dan menyeramkan. Dari boneka penjaga yang rusak separuh wajahnya hingga automaton anak-anak yang tertawa di balik masker porselen retak, setiap detail menciptakan nuansa horor yang tak hanya menakutkan, tapi juga menyedihkan.
Soundtrack-nya seperti gabungan antara opera tragedi dan skor film noir—dengan piano minor, orkestra string mendesak, dan sesekali bisikan lembut yang mengganggu. Efek suara senjata, langkah kaki, dan dentuman mekanik semuanya menghadirkan sensasi berat dan nyata.
Dan tak kalah penting: voice acting dalam Overture kali ini mendukung penuh kekuatan narasi. Simon, NPC penting, dan bahkan musuh bos semua memiliki pengisi suara profesional dengan performa emosional yang kuat—membuatmu benar-benar tenggelam dalam dunia mereka.
Refleksi Filosofis: Apakah Kebohongan Itu Dosa?
Di balik semua aksi dan mekanik, Lies of P: Overture mengajak pemain merenungkan satu pertanyaan: “Apakah berbohong demi kebaikan tetaplah salah?”. Game ini menempatkanmu dalam posisi yang terus dipertanyakan, tak pernah memberikan jawaban hitam putih. Di dunia di mana manusia dan boneka saling menyalahkan, di mana teknologi dan emosi saling bertentangan, kebenaran justru menjadi beban paling berat.
Simon, tidak seperti P, adalah manusia berdarah daging. Tapi sepanjang game, pilihanmu bisa membuatnya kehilangan sisi kemanusiaannya jauh lebih cepat dari boneka mana pun.
Dengan begitu, Overture bukan hanya permainan, tapi juga kritik sosial dan filosofi tentang kepercayaan, identitas, dan pengorbanan. Ia menunjukkan bahwa terkadang, “berbohong” adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan yang tersisa dari peradaban yang sudah hancur.
Kesimpulan: Pembuka Kegelapan yang Tidak Boleh Dilewatkan
Lies of P: Overture bukan hanya ekspansi atau prekuel, tapi fondasi baru dari semesta Lies of P yang kini terasa lebih dalam, kelam, dan relevan dari sebelumnya. Ini adalah kombinasi situs toto luar biasa dari desain gameplay solid, narasi emosional, dan filosofi moral yang membuat setiap keputusan terasa berat.
Apakah kamu siap menelusuri awal dari semua kebohongan ini? Di dunia Lies of P: Overture, kebenaran adalah senjata yang paling menyakitkan—dan setiap kebohongan, adalah bekas luka yang tak bisa dihapus.